Cegah Autis sejak dalam Kandungan

AUTIS memang membuat Orang Tua tidak percaya diri. Dengan tingkah laku anaknya yang serba seenaknya sendiri, yang asik bergelut dengan dunianya sendiri. Namun penyebab autis hingga kini belum diketahui secara pasti. Meski begitu, gangguan ini sebenarnya bisa dicegah. Bahkan, pencegahan bisa dilakukan sejak bayi masih berada dalam kandungan.

Autis berasal dari bahasa Yunani auto berarti ‘sendiri’ yang ditujukan kepada seseorang yang menunjukkan gejala ”hidup” dalam dunianya sendiri. Autis merupakan gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Dokter kandungan dari Rumah Sakit Omni Internasional, Alam Sutera Tangerang, dr Mufti Yunus Pot mengatakan, autis adalah kelainan neurologis yang memengaruhi perkembangan normal dari otak.

”Kelainan ini akan memengaruhi perkembangan normal dari otak di bidang interaksi sosial dan keterampilan komunikasi,” ucapnya dalam acara talkshow ”Memahami Anak Berkebutuhan Khusus dan Penatalaksanaannya”. Acara ini digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-3 Omni Hospital Alam Sutera, beberapa waktu lalu.

Mufti mengatakan, gejala utama autis adalah terjadinya gangguan dan keterlambatan, yaitu kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Tanpa melihat dan meraba, autis bisa terjadi pada siapa saja. Sampai saat ini, autis belum ditemukan penyebab pastinya. Selain itu, penderita autis jumlahnya kian meningkat dengan persentase lelaki dibandingkan perempuan ialah 4 banding 1. Di Kanada dan Jepang, pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California, Amerika Serikat, pada 2002 terdapat 9 kasus autis setiap harinya.

”Jumlahnya kian meningkat, namun metode diagnosis kian berkembang,” tutur dokter lulusan Universitas Andalas, Sumatera Barat, ini. Walaupun belum diketahui secara pasti penyebabnya, seorang ibu bisa melakukan pencegahan sejak dalam kandungan. Beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu seperti mendetoks sang ibu dan janin, di antaranya dengan mengonsumsi bahan alami yang sudah teruji.

”Lakukan skrining terutama skrining infeksi virus seperti TORCH (toxoplasma, rubela, citomegalovirus, herpes atau hepatitis),” sarannya.

Adapun yang harus diwaspadai oleh ibu hamil dan berhubungan dengan terjadinya autis ialah keadaan pendarahan selama kehamilan. Pendarahan selama kehamilan umumnya karena placental complications yang mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin. Pendarahan awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah yang juga merupakan risiko tinggi terjadinya autis.

”Selain itu, yang harus diawasi ialah keadaan infeksi selama persalinan, terutama infeksi virus, pemakaian obat-obatan, merokok, stres selama kehamilan juga menjadi keadaan yang memicu terjadinya bayi lahir dengan autis,” ucapnya.

Dalam hal mengonsumsi obat, berhati-hatilah minum obat selama kehamilan. Jika ingin mengonsumsi obat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu, terutama obat-obatan yang diminum selama kehamilan di trimester pertama. Pada masa persalinan, gangguan persalinan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya autis adalah pemotongan tali pusat terlalu cepat.

Dikatakan oleh seorang pakar autisme, nutrisi dan suplemen dari Australia, Dr Igor Tabrizian MD, bahwa upaya pencegahan tampaknya hanya bertujuan agar gangguan perilaku yang terjadi tidak semakin parah, bukan untuk mencegah terjadinya autis. Untuk itu, yang paling utama ialah menghindari risiko terjadinya gangguan atau gangguan pada organ tubuh kita.

”Lakukan pencegahan sedini mungkin sejak merencanakan kehamilan, saat kehamilan, persalinan, dan periode usia anak,” ujarnya.

Untuk mencegah gangguan perkembangan sejak kehamilan, kita harus melihat dan mengamati penyebab dan faktor risiko terjadinya gangguan perkembangan sejak dalam kehamilan. Beberapa cara untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang sejak dalam kehamilan, di antaranya dengan memeriksakan dan mengonsultasikan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal.

”Konsultasi dan pemeriksaan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan, sebaiknya dilakukan secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasihat dan petunjuk dokter dengan baik,” ucap Igor.

Dalam hal diagnosis, dibutuhkan diagnosis yang tepat dan akurat. Patokan bahwa seorang anak yang mengalami autis memiliki tujuh ciri anak autis. Nah jika anak mengalami dua atau lebih dari ciri tersebut, maka bisa dikatakan anak tersebut autis.
(Koran SI/Koran SI/tty/OZ)

This entry was posted in Kesehatan, Lifestyle, News, Tips & Trik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>